Minggu, 14 Februari 2016

Pentingnya Membangun Komunikasi dalam Keluarga

Salam "Harmony

untuk para sahabat di seluruh penjuru...

Pada postingan ini, saya mau bercerita tentang "Pentingnya Membangun Komunikasi  dalam Keluarga".


Ajang berkumpul bersama keluarga saat ini sangatlah sulit, dikarenakan berbagai kesibukan semua anggota keluarga, baik itu para pasangan suami istri yang sama-sama bekerja, para orang tua yang sibuk mencari nafkah maupun anak-anak yang sibuk dengan berbagai aktivitas sekolah dan lainnya. Hal semacam ini juga pernah terjadi di keluarga kami, saat saya masih bekerja. Apalagi anak-anak yang telah memasuki usia pra-remaja dan remaja, yang mulai disibukkan dengan urusan sendiri-sendiri, sibuk jalan atau nongkrong dengan teman-temannya. Dunia Mayapun ikut-ikutan ambil bagian menyita waktu dan pikiran anak-anak, dan juga termasuk para orang tua. Sering terjadi semua anggota keluarga berada di rumah, namun tidak saling tegur sapa karena masing-masing asyik dengan gadgetnya.






Padahal, bila kita renungkan sesaat dengan hati yang jujur, berkumpul bersama keluarga merupakan salah satu kegiatan yang sangat mengasyikan dan membahagiakan hati setiap anggota keluarga. Di mana kita bisa saling bercerita satu sama lain diantara anggota keluarga, saling mendengarkan, saling bertanya, saling menguatkan, saling mendukung dan saling memberikan pendapat atau membantu jalan keluar atas masalah yang mungkin dialami oleh anggota keluarga.



Pergaulan bebas, narkoba dan sejenisnya, Miras, Game Online yang mengandung unsur pornografi dan kekerasan cenderung sangat meningkat saat ini, demikian juga aborsi di kalangan siswi SMP maupun SMA. Semua ini tentunya sangatlah mengkhawatirkan para orang tua.

Pada masa dahulu, orang tua lebih cenderung menjaga anak perempuannya dengan ketat, namun sekarang hal tersebut tidak berlaku lagi. Para orang tua saat ini harus menjaga semua anaknya, baik perempuan maupun laki-laki. Maraknya isu-isu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual & Transgender) yang beredar baru-baru ini menjadi hal yang mengkhawatirkan para orang tua yang mempunyai anak laki-laki. 


Di jaman teknologi hebat saat ini, anak berada di rumah atau di kamarnya tidak berarti mereka sudah aman. Mengapa demikian?? Memangnya apa yang terjadi dengan mereka...?? Ternyata mereka sibuk dan asyik bermain game online, dan sedang fokusnya bermain game, tiba-tiba muncul iklan berbau pornografi, dan dengan rasa ingin tahu merekapun meng"klik" iklan tersebut, dan munculah adegan-adegan syurrr.... Sudah pasti hal semacam ini membuat mental anak kita menjadi bobrok. Sikap dan perilakunya pun menjadi kasar dan liar atau bahkan kebalikannya menjadi anak yang introvert alias pendiam dan tertutup. 

Jangan biarkan ini terjadi lagi. Agar anak-anak tidak mudah terjerumus ke dalam dunia gelap dan tidak hidup dalam dunianya sendiri, maka secepatnya TARIK mereka dari dunia kesendiriannya. Luangkan waktu orang tua untuk berkumpul dengan anak-anak setiap hari minimal 15 - 30 menit untuk membangun komunikasi sehingga tercipta keharmonisan keluarga. 


Tips singkat membangun komunikasi dan keharmonisan keluarga, antara lain: 

1. Dimulai dari orang tua terlebih dahulu : yaitu anda dan pasangan, terlebih dahulu untuk saling mengasihi, saling memahami, dan saling mendukung satu sama lain sehingga satu visi dan satu misi dalam keluarga. Untuk melanggengkan hubungan anda dengan pasangan, usahakan untuk menyisihkan waktu melakukan kegiatan privacy dan refreshing berdua, seperti bercinta, berkencan, nonton bioskop atau konser, atau kegiatan lainnya yang hanya dilakukan berdua saja dengan pasangan anda.





2. Beribadah Bersama - Biasakan keluarga untuk selalu beribadah atau bersembahyang bersama serta ajak untuk berdoa, membaca dan merenungkan Kitab Suci sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. 





3. Makan Bersama - Biasakan makan bersama keluarga minimal 1 kali sehari, pada saat sarapan atau makan malam. Rencanakan juga sekali sebulan untuk makan bersama keluarga di luar rumah, khususnya di hari libur. 





4. Belajar Bersama - Sisihkan waktu orang tua untuk mendampingi anak-anak belajar dan arahkan mereka untuk bereksplorasi. Ciptakan suasana belajar yang fun, asyik tapi tetap fokus.





  

5. Liburan atau Olahraga Bersama - Rencanakan untuk melakukan kegiatan bersama keluarga di luar rumah pada hari libur, misalnya berenang dipantai atau kolam renang, bersepeda dipinggiran desa, berkemah, hiking,  berolahraga, berlibur ke tempat wisata atau sekali-sekali menginap di hotel atau rumah penginapan.






Bangunlah kedekatan suami dengan istri, orang tua dengan anak melalui sebuah PELUKAN HANGAT, BELAIAN, PUJIAN dan EMPATI dengan penuh cinta kasih dan ketulusan. Keluarga dan anak-anak yang kita miliki merupakan harta yang paling berharga, janganlah pernah menyia-nyiakan waktu untuk bisa bersama sesering mungkin.

Semoga ulasan ini dapat bermanfaat secara positif untuk sahabat semua. 


Baca juga : Tips Efektif Membangun Komunikasi Keluarga.


Salam "Harmony"

FS.


Sabtu, 13 Februari 2016

Harmony Life



Salam "Harmony" all frend. 



Salam kenal dengan saya, pemilik new blog ini...

Pada postingan perdana ini, saya cerita sedikit tentang profill saya dan keluarga saya. Saya seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) dengan satu suami dan empat orang anak. Sebelumnya saya bekerja di sebuah perusahaan perbankan nasional terkemuka di Jakarta, namun karena kebutuhan keluarga saya pun baru-baru ini harus mengundurkan diri alias resign dan beralih profesi menjadi IRT fulltime.





Keputusan untuk resign setelah 23 tahun bekerja, apalagi dari perusahaan BUMN bukanlah hal yang mudah untuk saya lakukan. Saya butuh waktu berbulan-bulan dan pertimbangan yang harus benar-benar matang dan juga dengan air mata. Karena dengan saya berhenti bekerja berarti sumber penghasilan keluarga berkurang, itu pikiran kita secara logika, selain itu ada rasa sayang dan takut kehilangan pekerjaan. Di satu sisi, kehadiran saya sebagai seorang ibu juga sangat dibutuhkan di rumah. Dan itu memang harus segera saya lakukan!!!

Kenapa baru sekarang... padahal anak-anak saya sudah menginjak remaja dan pra-remaja. Si sulung laki-laki, namanya Jem sudah 2 SMA ; anak kedua perempuan, biasa dipanggil Kar, dia 1 SMA ; anak ketiga laki-laki, namanya Sam tapi sering dipanggil dengan "Wel", dia mau SMP ; dan si bungsu kami perempuan, nama panggilannya Win, 4 SD. Saya memang sudah tidak repot lagi dengan urusan menggendong atau menjaga anak seperti yang saya alami saat mereka masih bayi atau balita. 

Masih jelas dalam ingatan saya 11 tahun yang lalu, bagaimana saya repotnya sebagai seorang wanita yang bekerja dan juga mengurus keluarga. Waktu itu saya mendapat promosi dari perusahaan tempat saya bekerja ke kantor cabang di perbatasan Jakarta Utara - Jakarta Timur. Saat itu kami tinggal di Tangerang dan saya sedang hamil si bungsu. Perjalanan saya ke kantor, baik berangkat maupun pulang ke rumah sangat melelahkan setiap hari. Macetnya jalan mulai dari tol Karang Tengah, Palmerah, Tomang, Cawang sampai Sunter, membuat saya harus berangkat subuh sebelum anak-anak bangun dan tiba di rumah kembali menjelang tengah malam saat anak-anak sudah tidur sambil membawa "tambur". Untungnya suamiku adalah suami SIAGA yang siap mengantar dan menjemput saya bekerja, padahal diapun bekerja sebagai PNS di daerah Jakarta Selatan. Praktis saya dan suami bertemu anak kami hanya pada hari libur weekend atau libur nasional. 

Memang pekerjaan rumah tangga dan mengurus anak bayi atau balita bisa saya alihkan ke pembantu atau babysitter, tapi tidak bisa 100%. Sebagai seorang istri dan ibu yang baik dari 3 anak yang masih kecil-kecil, saya tetap harus terjun ke dalam urusan rumah tangga dan anak-anak, meskipun saya wanita bekerja dan sekalipun saya sedang hamil tua. Saya tetap harus mengawasi pekerjaan pembantu dan babysitter serta terus memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak-anak kami. 





Tiba waktunya saya melahirkan anak kami yang ke-4, perempuan, cantik menggemaskan, persis seperti doa permohonan kakaknya Kar. Dari sebelum saya hamil, anak kami yang kedua ini memang selalu berdoa kepada Tuhan untuk minta adik perempuan. Dia iri dengan abangnya Jer karena mempunyai adik laki-laki Sam untuk teman bermain dan teman sekamarnya. Dia pun ingin seperti itu, tapi aku tidak terlalu menggubris keinginannya waktu itu, karena menurutku dengan 3 anak saja sudah sangat repot. Sungguh luar biasa doa sang anak kecil, "Yang Maha Kuasa" mendengarkan dan mengabulkan permohonannya, sayapun hamil dan melahirkan adik perempuan sesuai harapannya. Kami sangat bersyukur karena semakin lengkaplah keluarga kami dengan 2 pasang anak-anak, walau berbagai kerepotan muncul di sana sini. Puncak kerepotan tiba, saat saya harus masuk kerja kembali setelah 3 bulan cuti melahirkan. Bisa dibayangkan bagaimana kerepotan saya waktu itu?

Kalau mengingat itu semua, saya kembali bersyukur kepada "Sang Khalik" karena semua bisa berjalan dengan baik, meskipun banyak suka duka yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan anak-anak, pembantu dan babysitter. Pernah tagihan telepon rumah kami hampir dua juta, padahal kami sehari-hari di kantor dan jarang menggunakan telepon rumah. Setelah kami selidiki, ternyata si pembantu sering telepon interlokal ke keluarga dan pacarnya di kampung. Pernah juga pembantu membawa celengan anak kami dan kabur saat kami bekerja dan anak-anak sedang tidur siang, tapi masih ada untungnya, dia tidak membawa barang-barang berharga lainnya dan tidak melukai anak-anak. Pernah juga kami harus menitipkan ke-4 anak kami ke panti penitipan anak karena pembantu kami harus pulang kampung untuk menikah, subuh sebelum berangkat kerja kami antar dan malam sepulang kerja kami ambil. Saat itu kami belum mendapat pembantu dan babysitter pengganti, sementara mama saya yang tinggal di Bekasi sedang sakit dan tidak bisa membantu menjaga anak-anak kami. 
   
Dan yang paling miris hati saya kalau mengingatnya adalah kenangan pahit dan buruk yang harus dialami ke-4 anak saya saat mereka masih kecil. Dari mulai dikasari, dicubit, dan dipukul oleh pembantu dan babysitter, bahkan mereka pernah dikurung di rumah dan di kamar mandi. Bayi kamipun diberi obat tidur lewat susunya sehingga si bayi tidur seharian, sementara si pembantu dan babysitter keluar rumah pergi bersama pacarnya sampai sore. Saya mendapat info itu dari tetangga sebelah yang mendengar tangisan dan teriakan anak-anak kami, dan kata mereka hal ini hampir setiap hari terjadi. Saya dan suami langsung memecat pembantu dan babysitter itu, meskipun akhirnya kami juga yang susah karena tidak ada yang membantu mengurus anak-anak, sementara kami tidak bisa cuti bekerja dan mama sayapun sedang kurang sehat. Alhasil anak-anak kamipun dititipkan kembali ke panti penitipan anak dengan waktu yang cukup lama, karena saya menjadi over protective untuk mencari pembantu dan babysitter pengganti. 

Begitu banyaknya masalah yang terjadi, khususnya yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Saya meminta kepada suami agar pindah rumah "bedol kota" ke Jakarta mendekati kantor saya karena saya tidak bisa pindah kantor cabang, dan suamipun setuju. Cukup banyak pengorbanan yang kami lakukan saat pindah rumah demi pekerjaan dan keluarga, dari mulai biaya pindah sekolah SD 2 anak kami, 2 usaha toko Fotocopy&ATK harus rela kami over (terlalu jauh dan mahal biayanya untuk mengkontrol meskipun ada anak buah), rumah di Tangerang yang sudah lunas kami jual untuk DP pembelian rumah di Jakarta dan sisanya kami ambil KPR (harga rumah di Tangerang sangat tidak sebanding dengan Jakarta). Dan masih banyak lagi pengorbanan yang harus kami lakukan, agar saya dan suami bisa bekerja dengan tenang, tapi tak mengapa, yang penting kami - saya dan suami - lebih punya waktu meskipun sedikit untuk anak-anak setiap hari. Saya bisa berangkat kerja jam 6.30 wib dan pulang sampai di rumah sebelum jam 6 sore. Dan hari-hari berjalan terus...  Anak-anakpun sudah menginjak remaja dan pra-remaja, sampai pada suatu ketika....

Kami mendapat panggilan dari sekolah Sam, anakku yang ke-3, juga mendapat panggilan dari lembaga lesnya. Kata guru wali kelasnya dan juga guru pembimbing lesnya, Sam akhir-akhir ini sering melamun dan nilainya turun drastis, bahkan nilainya dari beberapa kali Try Out (TO) sangat rendah di bawah nilai standar. Gurunya kuatir bila Sam terus seperti itu, maka nilai Ujian Nasional (UN) dan Ujian Akhir Sekolah (US) akan buruk dan bisa jadi Sam tidak lulus SD serta tidak masuk SMP Negeri. Saya sangat kaget, karena selama ini nilai ujian dan raport Sam termasuk baik meski tidak masuk rangking 5 besar di kelasnya. Demikian juga dengan Jem si sulung, kamipun mendapat panggilan dari sekolah SMAnya. Masalahnya sama, nilai ujian Jem banyak yang tidak tuntas alias di bawah standar kenaikan kelas dan banyak tugas-tugas yang belum diserahkan/dikerjakan Jem. Dia sering bercanda di kelas dan tidak fokus pada pelajaran, bajunya juga sering dikeluarkan alias tidak rapi. Guru wali kelasnya bilang, kalau ini terus terjadi tanpa ada perubahan dan perbaikan dari Jem, maka kemungkinan dia tidak naik kelas. Win si bungsu kamipun hampir sama, nilai ujiannya merosot jauh dari sebelumnya, meskipun kami tidak mendapat panggilan dari sekolahnya. Saya melihatnya dari lembar ujian hariannya yang telah dinilai dan diberikan gurunya lewat Win. Hanya Kar yang normal-normal saja, prestasinya lumayan bagus, nilainya termasuk baik, dan semangat belajarnya juga tinggi. 

What happened kids...?? 

What wrong darling...??? 






Selidik punya selidik, ternyata masalahnya ada di "internet" dan "Game Online". Karena kebutuhan saya, suami dan juga anak-anak (untuk mengerjakan tugas sekolahnya) kami memasang WIFI, namun karena sibuk bekerja, kami tidak sadar akibat negatifnya. Kami hanya melihat bahwa anak-anak kami aman berada di rumah alias di kamarnya setiap hari dan tidak keluyuran di luar rumah. Apa yang sebenarnya terjadi... mereka sibuk dan asyik bermain game online, dan sedang fokusnya bermain muncul iklan berbau seks, dan dengan rasa ingin tahu merekapun meng"klik" iklan tersebut, lalu munculah adegan-adegan syurrr.... Ya Tuhan... ternyata inilah yang terjadi. Akhirnya kami sepakat untuk mengaktifkan WIFI saat saya dan suami berada di rumah. Namun ibarat kena "narkoba", anak-anakku sudah ketergantungan dengan internet dan game online. Jer dan Sam diam-diam ke warnet sepulang sekolah sampai sore. Saya dan suami marah besar kepada mereka dan memutuskan untuk tidak memberi uang saku dan hanya membawa bekal saat mereka sekolah. 

Apa yang kemudian terjadi fren...?? Apakah masalah selesai...?? Tidak fren... anak-anakku menjadi seperti orang linglung, galau dan tampak bodoh, lemas dan tidak bersemangat. Mereka kebingungan apa yang harus dikerjakan. Aku dan suami membelikan buku-buku bacaan, dari mulai buku-buku ilmu pengetahuan sampai buku cerita lucu atau novel anak-anak dan remaja, namun hal itu tidak membantu. Mereka tetap saja seperti anak yang tidak bergairah hidup dan mereka kakak-adik jadi sering berantem dan berkelahi. Suami saya jadi sering marah-marah baik kepada anak-anak maupun kepada saya, karena terkadang saya sering membela mereka. Sebetulnya saya sedikit bisa memaklumi anak-anak, karena mereka pasti bingung harus ngapain di rumah sepulang sekolah tanpa ada papa mamanya. Saya dan suamipun jadi sering bertengkar dan terkadang tanpa sadar di depan anak-anak. Kondisi keluarga kami menjadi semrawut dan tidak nyaman lagi, sebentar-sebentar marah, sebentar-sebentar ribut, bertengkar. Pusing saya dibuatnya, bekerjapun jadi tidak fokus dan badan rasanya lelah sekali. 

Untuk menenangkan diri, saya berdoa kepada Tuhan, dan saya mengajak anak-anak untuk melakukan "sate" alias saat teduh, berdoa, bernyanyi dan membaca firman Tuhan bersama-sama. Bila kami selesai melakukan "sate" kami merasa sangat nyaman, tenang dan damai. Sayangnya kami tidak bisa sering melakukan "sate" itu, karena pekerjaan saya akhir-akhir ini sangat padat dengan target yang menantang, membuat saya pulang malam dan badan rasanya lelah sekali. Langsung tidur, itulah yang sering saya lakukan sepulang bekerja atau menengok anak sebentar di kamarnya sebelum saya tidur, sekedar menanyakan apakah mereka sudah makan malam, menanyakan PR mereka apakah sudah dikerjakan tanpa melihat atau mengecek hasilnya, mengingatkan mereka untuk persiapan buku dan peralatan sekolahnya besok hari. 





Suatu ketika, entah kenapa saat saya berdoa, tiba-tiba muncul niat di dalam hati dan pikiran untuk resign dari pekerjaan. Anak adalah titipan Tuhan, permata yang paling berharga yang pernah kita miliki dalam hidup kita. Uang itu penting, tapi apalah artinya harta dan uang yang berlimpah, ketika anak kita sudah terjerumus kepada hal-hal yang negatif dan tidak punya masa depan. Tengkuk saya bergidik, membayangkan remaja jaman sekarang yang banyak kena "narkoba", MBA (Married Because Accident) dan melakukan aborsi, bahkan sampai meninggal karena Over Dosis (OD). Anak teman saya ada yang seperti itu, Anak tetanggapun demikian. 

Setelah berdiskusi dan berkonsultasi dengan suami, dengan anak-anak, dengan mama saya, dengan adik-adik, dengan abang dan kakak ipar, dengan semua keluarga besar, dengan pendeta, dengan tim dan teman kerja, dengan atasan kantor, dan terutama dengan Tuhan di dalam doa, akhirnya saya memutuskan mengundurkan diri alias resign dari perusahaan dan sepenuhnya menjadi IRT. Tohh... saya masih bisa berusaha untuk menambah penghasilan keluarga dari rumah, dan sudah banyak yang sukses seperti itu. 

Dengan berat, manajemen perusahaan menyetujui permohonan saya dengan masa tunggu 3 bulan. Dan saat menulis cerita ini, sudah 3 bulan saya berprofesi sebagai IRT fulltime dan kantor baru saya adalah my home and tim work saya adalah my children. Tugas baru saya adalah memperbaiki kualitas anak-anak dan keluarga, menerapkan kedisiplinan dan kebiasaan yang baik kepada mereka termasuk saya dan suami juga hehehe... menggiatkan "sate" alias saat teduh, mengarahkan keluarga untuk hidup dalam sukacita, damai sejahtera, harmonis dan selalu bersandar kepada Tuhan Yesus Kristus Sang Juruselamat Umat Manusia. 

Puji syukur kehadirat Yang Maha Kuasa, Pencipta alam semesta, saat ini anak-anak sudah mulai bisa dibatasi bermain game, sudah mulai bisa fokus belajar, sudah lebih disiplin, lebih bertanggung jawab, dan yang terpenting mereka lebih ceria dan lebih semangat. Demikian pula dengan saya dan suami, kami berdua menjadi lebih satu hati dalam urusan pengasuhan dan pendidikan anak, serta saling menguatkan satu sama lain.  

Lewat postingan ini, sayapun ingin bercerita tentang "harmony life" atau hidup harmoni. Itu nama judul blog ini. Kenapa saya memilih kata itu sebagai judul blog ini? Apa dan bagaimana sih "harmony life"  itu? Penasarankah fren...?




Kata "harmony" atau dalam bahasa Indonesia baku "harmoni" adalah keserasian, keselasaran, atau kerukunan.  Jadi "harmony life" atau "hidup harmoni atau harmonis" adalah hidup yang disertai dengan keserasian dan keselarasan dengan pasangan hidup, dengan anak-anak dan juga dengan seluruh anggota keluarga besar kita. Hidup rukun dengan tetangga, kerabat dan seluruh handai taulan kita dimanapun kita berada. Tentunya juga dibarengi dengan pikiran yang positif (positive thinking) terhadap orang lain, sekalipun kita tidak atau belum mengenalnya. Tapi bukan berarti kita harus percaya begitu saja kepada orang lain. Saya yakin kalian mengerti maksud saya.





Sungguh indahnya hidup ini, bila kita semua saling mengasihi, saling menghargai dan saling berbagi dengan penuh cinta kasih. Hidup yang "harmony" menciptakan kedamaian, sejahtera dan suka cita, bagi diri kita sendiri, bagi keluarga dan bagi sesama kita. Hidup yang penuh dengan "harmony" sungguh merupakan dambaan setiap insani di dunia ini, termasuk anda dan saya. Inilah yang dimaksud dengan "Hidup harmoni atau harmonis", dan inilah tujuan hidup saya, setelah memutuskan resign bekerja dan menjadi IRT fulltime.

Saya buat blog ini dengan judul "Harmony Life", agar saya selalu diingatkan untuk bersyukur atas semua berkat dan karunia yang telah diberikan Tuhan kepada saya dan keluarga, agar saya selalu berusaha untuk belajar dan mencari tahu atau informasi tentang bagaimana untuk mencapai tujuan tersebut, yaitu membentuk keluarga yang harmonis. 

Sampai disini dulu postingan tentang "harmony life" ini. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu menyertai dan memberkati kita semua. Amin.. Dan semoga lewat blog  "Harmony Life" ini saya dapat berbagi cerita, berbagi info dan berbagi tips apa saja yang dapat bermanfaat secara positif untuk kita semua.




Salam "Harmony".

FS.